initogel – Di ruang kelas darurat yang beratapkan terpal, pensil baru itu digenggam erat. Bukan karena mahal, tetapi karena ia membawa makna: kesempatan untuk kembali belajar. Badan Amil Zakat Nasional menyalurkan 20.000 paket alat belajar kepada siswa korban bencana di berbagai daerah—sebuah ikhtiar kemanusiaan agar pendidikan tidak ikut runtuh bersama rumah dan sekolah yang rusak.
Bagi anak-anak yang terdampak bencana, paket sederhana berisi buku tulis, alat tulis, dan perlengkapan belajar lainnya menjadi penguat langkah. Mereka kembali duduk, menulis, dan bermimpi—meski lingkungan belum sepenuhnya pulih.
Belajar sebagai Jalan Pemulihan
Bencana kerap memutus rutinitas. Sekolah terhenti, buku hilang, dan semangat goyah. Di titik inilah bantuan pendidikan menjadi krusial. Baznas menempatkan pendidikan sebagai bagian dari pemulihan psikososial, bukan sekadar distribusi logistik.
“Anak-anak perlu kembali ke ritme belajar,” ujar seorang relawan. “Belajar memberi rasa normal di tengah ketidakpastian.”
Paket alat belajar dirancang agar siap pakai, mudah dibagikan, dan relevan dengan kebutuhan siswa lintas jenjang.
Menjangkau yang Paling Rentan
Distribusi dilakukan ke wilayah-wilayah terdampak dengan mempertimbangkan akses dan urgensi. Tim Baznas berkoordinasi dengan pemerintah daerah, sekolah, dan relawan lokal untuk memastikan bantuan tepat sasaran—menjangkau anak-anak yang kehilangan perlengkapan belajar atau harus pindah ke tempat pengungsian.
Di beberapa lokasi, paket diserahkan langsung di sekolah darurat; di tempat lain, dibagikan di pos pengungsian. Senyap namun konsisten, bantuan itu bergerak dari tangan ke tangan.
Di Balik Paket, Ada Harapan
Bagi Alya, siswa kelas empat yang tasnya hanyut saat banjir, buku tulis baru terasa seperti awal. “Aku bisa nulis lagi,” katanya pelan. Guru-gurunya melihat perubahan kecil tapi penting: anak-anak lebih tenang, lebih fokus, dan lebih berani bertanya.
“Alat belajar itu seperti izin untuk bermimpi lagi,” ujar seorang guru.
Zakat yang Menguatkan Masa Depan
Baznas menegaskan bahwa zakat, infak, dan sedekah yang dihimpun masyarakat dikelola untuk menjawab kebutuhan paling mendasar—termasuk pendidikan di masa darurat. Bantuan ini adalah wujud amanah publik yang dikembalikan dalam bentuk kesempatan belajar.
“Pendidikan adalah investasi jangka panjang,” kata seorang pengelola program. “Menolong hari ini, berdampak puluhan tahun.”
Sinergi untuk Anak-Anak
Penyaluran paket alat belajar dilakukan dengan sinergi berbagai pihak—sekolah, relawan, tokoh masyarakat—agar proses berjalan tertib dan manusiawi. Anak-anak diprioritaskan, guru dilibatkan, dan orang tua diberi ruang untuk mendampingi.
Pendekatan ini menjaga martabat penerima bantuan: tidak sekadar menerima, tetapi merasa dihargai.
Belajar di Mana Saja
Di tengah keterbatasan ruang, belajar menemukan jalannya. Di balai desa, di tenda, di teras rumah yang tersisa—anak-anak membuka buku, menajamkan pensil, dan mengerjakan tugas. Fleksibilitas menjadi kunci; empati menjadi pegangan.
“Yang penting anak-anak tidak berhenti,” ujar seorang relawan pendidikan.
Langkah Kecil yang Menjaga Asa
Dua puluh ribu paket alat belajar mungkin tampak sebagai angka. Namun di lapangan, ia menjelma menjadi ribuan cerita: anak yang kembali berani membaca, guru yang kembali mengajar, orang tua yang kembali berharap.
Di tengah puing dan ketidakpastian, Baznas memilih satu pesan sederhana: pendidikan harus terus berjalan. Karena ketika anak-anak tetap belajar, masa depan masih punya pijakan.
Dan di setiap halaman buku yang terbuka, ada keyakinan yang tumbuh—bahwa dari bantuan kecil yang tepat, harapan besar bisa bangkit kembali.